BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Belajar pada hakikatnya
adalah perubahan tingkah laku. Perubahan tingkah laku terjadi setelah kegiatan
belajar dilalui dengan berbagai proses, seperti mendengar, mengamati, melihat
dan sebagainya. SPPKB merupakan strategi pembelajaran yang menekankan kepada
kemampuan berpikir siswa. Dalam SPPKB, materi pelajaran tidak disajikan begitu
saja kepada siswa. Akan tetapi, siswa dibimbing untuk menemukan sendiri konsep
yang melalui proses dialogis terus menerus dengan memanfaatkan pengalaman
siswa. Walaupun tujuan SPPKB sama dengan strategi pembelajaran
inkuiri, yaitu
agar siswa dapat mencari dan menemukan materi pelajaran sendiri, akan tetapi
keduanya memiliki perbedaan yang mendasar. Perbedaan tersebut terletak pada
pola-pola pembelajaran yang digunakan. Dalam proses pembelajaran SPPKB, guru
memanfaatkan pengalaman siswa sebagai titik tolak berpikir, bukan teka-teki
yang harus dicari sendiri jawabannya seperti dalam pola inkuiri.
1.2
Rumusan Masalah
1. Apa hakikat dan pengertian SPPKB ?
2. Apa latar belakang filosofis dan psikologis SPPKB
?
3. Apa hakikat kemampuan berpikir dalam SPPKB ?
4. Apa karakteristik SPPKB ?
5. Apa perbedaan SPPKB dengan pembelajaran
konvensional ?
6. Bagaimana tahapan-tahapan pembelajaran SPPKB ?
1.3
Tujuan
1. Untuk mengetahui apa hakikat dan pengertian
SPPKB.
2. Untuk mengetahui apa latar belakang filosofis dan
psikologis SPPKB.
3. Untuk mengetahui hakikat kemampuan berpikir dalam
SPPKB.
4. Untuk mengetahui karakeristik SPPKB.
5. Untuk mengetahui perbedaan SPPKB dengan
pembelajaran konvensional.
6. Untuk mengetahui tahapan-tahapan SPPKB.
1.4
Metodelogi
Makalah ini di susun menggunakan
metode analisis yaitu telaah buku dan sumber dari teknologi informasi lain yang
relevan dengan materi pembahasan.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1
Hakikat dan Pengertian Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berpikir
(SPPKB)
Telah dijelaskan
bahwa salah satu kelemahan proses pembelajaran yang dilaksanakan para guru kita
adalah kurang adanya usaha pengembangan kemampuan berpikir siswa. Dalam setiap
proses pembelajaran pada mata pelajaran apa pun kita lebih banyak mendorong
agar siswa dapat menguasai sejumlah materi pembelajaran. Strategi pembelajaran
ini pada awalnya dirancang untuk pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).
Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa selama ini IPS dianggap sebagai pelajaran
hafalan. Namun demikian, tentu saja dengan berbagai penyesuaian topik, strategi
pembelajaran yang akan dibahas ini juga dapat diterapkan pada mata pelajaran
lain (Sanjaya, dalam Wina 2010:226).
Model
strategi pembelajaran peningkatan kemampuan berpikir (SPPKB) adalah model
pembelajaran yang bertumpu kepada pengembangan kemampuan berpikir siswa melalui
telaahan fakta-fakta atau pengalaman anak sebagai bahan untuk memecahkan
masalah yang diajukan.
Terdapat
beberapa hal yang terkandung dalam pengertian diatas (Wina, 2010:227).
a. SPPKB
adalah model pembelajaran yang bertumpu pada pengembangan kemampuan berpikir,
artinya tujuan yang ingin dicapai oleh SPPKB adalah bukan sekedar siswa dapat
menguasai sejumlah materi pelajaran, akan tetapi bagaimana siswa dapat
mengembangkan gagasan-gagasan dan ide-ide melalui kemampuan berbahasa secara
verbal. Hal ini didasarkan kepada asumsi bahwa kemampuan berbicara secara
verbal merupakan salah satu kemampuan berpikir.
b. Telaahan
fakta-fakta sosial atau pengalaman sosial merupakan dasar pengembangan
kemampuan berpikir, artinya pengembangan gagasan dan ide-ide didasarkan kepada
pengalaman sosial anak dalam kehidupan sehari-hari dan/atau berdasarkan
kemampuan anak untuk mendeskripsikan hasil pengamatan mereka terhadap berbagai
fakta dan data yang mereka peroleh dalam kehidupan sehari-hari.
c. Sasaran
akhir SPPKB adalah kemampuan anak untuk memecahkan masalah-masalah sosial
sesuai dengan taraf perkembangan anak.
2.2
Latar Belakang Filosofis dan Psikologis SPPKB
A. Latar Belakang Filosofis
Pembelajaran
adalah proses interaksi baik antara manusia dengan manusia ataupun antara
manusia dengan lingkungan. Proses interaksi ini diarahkan untuk mencapai tujuan
yang telah ditentukan, misalkan yang berhubungan dengan tujuan perkembangan
kognitif, afektif, atau psikomotor. Tujuan pengembangan kognitif adalah proses
pengembangan intelektual yang erat kaitannya dengan meningkatkan aspek
pengetahuan, baik secara kuantitatif maupun kualitatif (Wina, 2010:227).
Dilihat
dari bagaimana pengetahuan itu bisa diperoleh manusia, dapat didekati dari dua
pendekatan yang berbeda, yaitu pendekatan rasional dan pendekatan empiris.
Rasionalisme menyatakan bahwa pengetahuan menunjuk kepada objek dan kebenaran
itu merupakan akibat dari deduksi logis. Aliran rasionalis menekankan pada
rasio, logika, dan pengetahuan deduktif. Berbeda dengan aliran rasionalis,
aliran empiris lebih menekankan kepada pentingnya pengalaman dalam memahami
setiap objek. Aliran ini memandang bahwa semua kenyataan itu diketahui melalui
indra dan kriteria kebenaran itu adalah kesesuaian dengan pengalaman. Dengan
demikian, pandangan empirisme menekankan kepada pengalaman dan pengetahuan
induktif. Aliran rasional maupun aliaran empris, keduanya berangkat dari dasar
pemikiran yang sama, yaitu bahwa sumber utama dari pengetahuan adalah dunia
luar atau objek yang ada diluar individu, atau objek yang menjadi
pengamatannya.
Menurut
aliran kontruktivisme, pengetahuan itu terbentuk bukan hanya dari objek semata,
tetapi juga dari kemampuan individu sebagai subjek yang menangkap setiap objek
yang diamati. Menurut kontruktivisme, pengetahuan itu memang berasal dari luar,
tetapi dikontruksi oleh dan dari dalam diri seseorang. Oleh sebab itu,
pengetahuan terbentuk oleh dua faktor penting, yaitu objek yang menjadi bahan
pengamatan dan kemampuan subjek untuk menginterprestasi objek tersebut. Kedua
faktor itu sama pentingnya. Dengan demikian, pengetahuan itu tidak bersifat
statis tapi bersifat dinamis, tergantung individu yang meliahat dan
menguntruksinya (Wina, 2010:228).
Inilah
dasar filosofis dalam pembelajaran berpikir. Selanjutnya tentang hakikat
pengetahuan menurut filsafat kontruktivisme adalah sebagai berikut :
1. Pengetahuan
bukanlah merupakan gambaran dunia kenyataah belaka, tetapi selalu merupakan
kontruksi kenyataan melalui subjek.
2. Subjek
membentuk skema kognitif, kategori, konsep dan struktur yang perlu untuk
pengetahuan.
3. Pengetahuan
dibentuk oleh struktur konsepsi seseorang. Struktur konsepsi membentuk pengetahuan
apabila konsepsi itu berhadapan dengan pengalaman-pengalaman seseorang
(Suparno, dalam Wina 2010:229).
Sesuai dengan
pembelajaran diatas, maka dalam proses pembelajaran berpikir, pengetahuan tidak
diperoleh sebagai hasil transfer dari orang lain, akan tetapi pengetahuan
diperoleh melalui interaksi mereka dengan objek, fenomena, pengalaman, dan
lingkungan yang ada. Suatu pengetahuan dianggap benar, manakala pengetahuan
tersebut berguna untuk melengkapi dan memecahkan persoalan atau fenomena yang
muncul. Aliran konstruktivisme menganggap bahwa pengetahuan tidak dapat
ditransfer begitu saja dari seseorang kepada orag lain, tetapi harus
diinterpretasikan sendiri oleh masing-masing individu. Oleh sebab itu, model
pembelajaran berpikir menekankan kepada aktivitas siswa untuk mencari pemahaman
akan objek, menganalisis, dan mengkonstruksinya sehingga terbentuk pengetahuan
baru dalam diri individu.
B. Latar Belakang Psikologis
Landasan psikologis
SPPKB adalah aliran psikologis kognitif. Menurut aliran kognitif, belajar pada
hakikatnya merupakan peristiwa mental, bukan peristiwa behavioral. Sebagai
peristiwa mental perilaku manusia tidak semata-mata merupakan gerakan fisik
saja, akan tetapi yang lebih penting adalah adanya faktor pendorong yang
menggerakan fisik itu. Mengapa demikian? Sebab manusia selamanya memiliki
kebutuhan yang melekat dalam dirinya. Kebutuhan itulah yang mendorong manusia
untuk berperilaku. Piaget (dalam Wina 2010:229) menyatakan “… children have a built-in desire to learn.” Inilah yang
melatarbelakangi SPPKB.
Dalam perspektif
psikologi kognitif sebagai landasan SPPKB, belajar adalah proses aktif individu
dalam membangun pengetahuan dan pencapaian tujuan. Artinya, proses belajar
tidaklah tergantung kepada pengaruh dari luar, tetapi sangat bergantung kepada
individu yang belajar (student centered). Individu adalah organisme yang aktif.
Ia adalah sumber daripada semua kegiatan. Pada hakikatnya manusia adalah bebas
untuk berbuat, manusia bebas untuk membuat satu pilihan dalam setiap situasi,
dan titik pusat kebebasan itu adalah kesadarannya sendiri. Oleh sebab itu
psikologi kognitif memandang bahwa belajar itu merupakan proses mental. Tingkah
laku manusia hanyalah ekspresi yang dapat diamati sebagai akibat dari
eksistensi internal yang pada hakikatnya bersifat pribadi. Brower dan Hilgard
(dalam Wina 2010:230) menjelaskan bahwa teori kognitif berkenaan dengan
bagaimana seseorang memperoleh pengetahuan dan bagaimana mereka menggunakan
pengetahuan tersebut untuk berperilaku lebih efektif.
2.3
Hakikat Kemampuan Berpikir dalam SPPKB
Strategi
pembelajaran peningkatan kemampuan berpikir atau SPPKB merupakan model
pembelajaran yang bertumpu pada proses perbaikan dan peningkatan kemampuan
berpikir siswa. Menurut Peter Reason (dalam Wina 2010:230), berpikir (thinking) adalah proses mental
seseorang yang lebih dari sekedar mengingat (remembering)
dan memahami (comprehending). Menurut
Reason mengingat dan memahami lebih bersifat pasif daripada kegiatan berpikir
(thinking). Mengingat pada dasarnya hanya melibatkan usaha penyimpanan sesuatu
yang telah dialami untuk suatu saat dikeluarkan kembali atas permintaan,
sedangkan memahami memerlukan pemerolehan apa yang didengar dan dibaca serta
melihat keterkaitan antar aspek dalam memori. Berpikir adalah istilah yang
lebih dari keduanya. Berpikir menyebabkan seseorang harus bergerak hingga
diluar informasi yang didengarnya. Misalkan kemampuan berpikir seseorang untuk
menemukan solusi baru dari suatu persoalan yang dihadapi.
Kemampuan
berpikir memerlukan kemampuan mengingat dan memahami, oleh sebab itu kemampuan
mengingat adalah bagian terpenting dalam mengembangkan kemampuan berpikir. Artinya,
belum tentu seseorang yang memiliki kemempuan mengingat dan memahami memiliki
kemampuan juga dalam berpikir. Sebaliknya, kemampuan berpikir seseorang sudah
pasti diikuti oleh kemampuan mengingat dan memahami. Hal ini seperti yang
dikemukakan Peter Reason, bahwa berpikir tidak mungkin terjadi tanpa adanya
memori. Bila seseorang kurang memiliki daya ingat (working memory), maka orang tersebut tidak mungkin sanggup
menyimpan masalah dan informasi yang cukup lama. Jika seseorang kurang memiliki
daya ingat jangka panjang (long term
memory), maka orang tersebut dipastkan tidak akan memiliki catatan masa
lalu yang dapat digunakan untuk
memecahkan masalah-masalah yang dihadapi pada masa sekarang. Dengan demikian,
berpikir sebagai kegiatan yang melibatkan proses mental memerlukan kemampuan
mengingat dan memahami, sebaliknya untuk dapat mengingat dan memahami
diperlukan proses mental yang disebut berpikir.
Maka
SPPKB bukan hanya sekedar model pembelajaran yang diarahkan agar peserta didik
dapat mengingat dan memahami berbagai data, fakta, atau konsep, akan tetapi
bagaimana data, fakta dan konsep tersebut dapat dijadikan sebagai alat untuk
melatih kemampuan berpikir siswa dalam menghadapi dan memecahkan suatu
persoalan (Wina, 2010:231)
2.4
Karakteristik SPPKB
Sebagai
strategi pembelajaran yang diarahkan untuk mengembangkan kemampuan berpikir,
SPPKB memiliki tiga karakteristik utama, yaitu sebagai berikut :
1. Proses
pembelajaran melalui SPPKB menekankan kepada proses mental siswa secara
maksimal. SPPKB bukan model pembelajaran yang hanya menuntut siswa sekedar mendengar
dan mencatat, tetapi menghendaki aktivitas siswa dalam proses berpikir. Hal ini
sesuai dengan latar belakang psikologis yang menjadi tumpuannya, bahwa
pelajaran itu adalah peristiwa mental bukan peristiwa behavioral yang lebih
menekankan aktivitas fisik. Artinya, setiap kegiatan belajar itu disebabkan
tidak hanya peristiwa hubungan stimulus-respons saja, tetapi juga disebabkan
karena dorongan mental yang diatur oleh otaknya. Berkaitan dengan karakteristik
tersebut, maka dalam proses implementasi SPPKB perlu diperhatikan hal-hal
sebagai berikut :
a. Jika
belajar tergantung pada bagaimana informasi diproses secara mental, maka proses
kognitif siswa harus menjadi kepedulian utama para guru. Artinya, guru harus
menyadari bahwa proses pembelajaran itu yang terpenting bukan hanya apa yang
dipelajari, tetapi bagaimana cara mereka mempelajarinya.
b. Guru
harus mempertimbangkan tingkat perkembangan kognitif siswa ketika merencanakan
topik yang harus dipelajari serta metoda apa yang akan digunakan.
c. Siswa
harus mengorganisasi yang mereka pelajari. Dalam hal ini guru harus membantu
agar siswa belajar untuk melihat hubungan antarbagian yang dipelajari.
d. Informasi
baru akan bisa ditangkap lebih mudah oleh siswa, manakala siswa dapat
mengorganisasikannya dengan pengetahuan yang telah mereka miliki. Dengan
demikian guru harus dapat membantu siswa belajar dengan memperlihatkan
bagaimana gagasan baru berhubungan dengan pengetahuan yang telah mereka miliki.
e. Siswa
harus secara aktif merespon apa yang mereka pelajari. Merespons dalam konteks
ini adalah aktivitas mental bukan aktivitas secara fisik.
2. SPPKB
dibangun dalam nuansa dialogis dan proses tanya jawab secara terus-menerus.
Proses pembelajaran melalui dialog dan tanya jawab itu diarahkan untuk
memperbaiki dan meningkatkan kemampuan berpikir siswa, yang pada gilirannya
kemampuan berpikir itu dapat membantu siswa untuk memperoleh pengetahuan yang
mereka konstruksi sendiri.
3. SPPKB
adalah model pembelajaran yang menyandarkan kepada dua sisi yang sama
pentingnya, yaitu sisi proses dan hasil belajar. Proses belajar diarahkan untuk
meningkatkan kemampuna berpikir, sedangkan sisi hasil belajar diarahkan untuk
mengkonstruksi pengetahuan atau penguasaan materi pembelajaran baru (Wina,
2010:231-232)
2.4
Perbedaan SPPKB dengan Pembelajaran Konvensional
Ada perbedaan
pokok antara SPPKB dengan pembelajaran yang selama ini banyak dilakukan guru
(Wina, 2010:233-234)
|
NO
|
Pembelajaran
SPPKB
|
Pembelajaran
Konvensional
|
|
1
|
SPPKB
menempatkan peserta didik sebagai subjek belajar, artinya peserta didik
berperan aktif dalam setiap proses pembelajaran dengan cara menggali
pengalamannya sendiri.
|
Pembelajaran
konvensional menempatkan peserta didik sebagai objek belajar yang berperan
sebagai penerima informasi secara pasif.
|
|
2
|
Dalam
SPPKB, pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata melalui penggalian
pengalaman setiap siswa.
|
Dalam
pembelajaran konvensional pembelajaran bersifat teoritis dan abstrak.
|
|
3
|
Dalam
SPPKB, perilaku dibangun atas kesadaran diri.
|
Dalam
pembelajaran konvensional perilaku dibangun atas proses kebiasaan.
|
|
4
|
Dalam
SPPKB, kemampuan didasarkan atas penggalian pengalaman.
|
Dalam
pembelajaran konvensional kemampuan diperoleh melalui latihan-latihan.
|
|
NO
|
Pembelajaran
SPPKB
|
Pembelajaran
Konvensional
|
|
5
|
Tujuan
akhir dari proses pembelajaran melalui SPPKB adalah kemampuan berpikir
melalui proses menghubungkan antara pengalaman dengan kenyataan.
|
Tujuan
akhir dari pembelajaran konvensional adalah penguasaan materi pembelajaran.
|
|
6
|
Dalam
SPPKB, tindakan atau perilaku dibangun atas kesadaran diri sendiri, misalnya
individu tidak melakukan Perilaku tertentu karena ia menyadari bahwa perilaku
itu merugikan dan tidak bermanfaat.
|
Dalam
pembelajaran konvensional, tindakan atau perilaku individu didasarkan oleh
faktor dari luar dirinya, misalnya Individu tidak melakukan sesuatu
disebabkan takut hukuman.
|
|
7
|
Dalam
SPPKB, pengetahuan yang dimiliki setiap individu selalu berkembang sesuai
dengan pengalaman yang dialaminya, oleh sebab itu setiap peserta didik bisa
terjadi perbedaan dalam memaknai hakikat pengetahuan yang dimilikinya.
|
Dalam
pembelajaran konvensional, hal ini tidak mungkin terjadi. Kebenaran yang
dimiliki bersifat absolute dan final, oleh karena pengetahuan dikonstruksi
oleh orang lain.
|
|
8
|
Tujuan
yang ingin dicapai oleh SPPKB adalah kemampuan siswa dalam proses berpikir
untuk memperoleh pengetahuan, maka kriteria keberhasilan ditentukan oleh
proses dan hasil belajar.
|
Dalam
Pembelajaran konvensional keberhasilan pembelajaran biasanya hanya diukur
dari tes.
|
Beberapa
perbedaan pokok diatas menggambarkan bahwa SPPKB memang memiliki perbedaan baik
dilihat dari asumsi maupun proses pelaksanaan dan pengelolaannya.
2.5
Tahapan – tahapan Pembelajaran SPPKB
SPPKB
menekankan kepada keterlibatan siswa secara penuh dalam belajar. Hal ini sesuai
dengan hakikat SPPKB yang tidak mengharapkan siswa sebagai objek belajar yang
hanya duduk mendengarkan penjelasan guru kemudian mencatat untuk dihafalkan.
Cara yang demikian bukan saja tidak sesuai dengan hakikat belajar sebagai usaha
memperoleh pengalaman, namun juga dapat menghilangkan gairah dan motivasi
belajar siswa (George W. Maxim dalam Wina 2010:234).
Ada 6 tahap dalam pembelajaran
SPPKB, sebagai berikut :
1. Tahap
Orientasi
Pada tahap ini guru
mengondisikan siswa pada posisi siap untuk melakukan pembelajaran. Tahap
orientasi dilakukan dengan :
a. Penjelasan
tujuan yang harus dicapai baik tujuan yang berhubungan dengan penguasaan materi
pelajaran yang harus dicapai, baik tujuan yang berhubungan dengan proses
pembelajaran atau kemampuan berpikir yang harus dimiliki siswa.
b. Penjelasan
proses pembelajaran yang harus dilakukan siswa dalam setiap tahapan proses
pembelajaran.
Pemahaman siswa
terhadap arah dan tujuan yang harus dicapai dalam proses pembelajaran seperti
yang dijelaskan pada tahap orientasi sangat menentukan keberhasilan SPPKB.
Pemahaman yang baik akan membuat siswa tahu kemana mereka akan dibawa, sehingga
dapat menumbuhkan motivasi belajar mereka. Oleh sebab itu, tahapan ini
merupakan tahapan yang sangat penting dalam implementasi proses pembelajaran.
Untuk itulah dialog yang dikembangkan guru pada tahapan ini harus mampu
menggugah dan menumbuhkan minat belajar siswa.
2. Tahap
Pelacakan
Tahap pelacakan adalah
tahapan penjajakan untuk memahami pengalaman dan kemampuan dasar siswa sesuai
dengan tema atau pokok persoalan yana akan dibicarakan. Melalui tahapan inilah
guru mengembangkan dialog dan tanya jawab untuk mengungkap pengalaman apa saja
yang telah dimiliki siswa yang dianggap relevan dengan tema yang akan dikaji.
Dengan berbekal pemahaman itulah selanjutnya guru menentukan bagaimana ia harus
mengembangkan dialog dan tanya jawab pada tahapan-tahapan selanjutnya.
3. Tahap
Konfrontasi
Tahap konfrontasi
adalah tahapan penyajian persoalan yang harus dipecahkan sesuai dengan tingkat
kemampuan dan pengalaman siswa. Untuk merangsang peningkatan kemampuan siswa
pada tahapan ini guru dapat memberikan persoalan-persoalan yang dilematis yang
memerlukan jawaban atau jalan keluar. Persoalan yang diberikan sesuai dengan
tema atau topik itu tentu saja persoalan yang sesuai dengan kemampuan dasar
atau pengalaman siswa seperti yang diperoleh pada tahap kedua. Pada tahap ini
guru harus dapat mengembangkan dialog agar siswa benar-benar memahami persoalan
yang harus dipecahkan. Mengapa demikian? Sebab, pemahaman terhadap masalah akan
mendorong siswa untuk dapat berpikir. Oleh sebab itu, keberhasilan pembelajaran
pada tahap selanjutnya akan ditentukan oleh tahapan ini.
4. Tahap
Inkuiri
Tahap inkuiri adalah
tahapan terpenting dalam SPPKB. Pada tahp inilah siswa belajar berpikir yang
sesungguhnya. Melalui tahapan inkuiri, siswa diajak untuk memecahkan masalah
persoalan yang dihadapi. Oleh sebab itu, pada tahapan ini guru harus memberikan
ruang dan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan gagasan dalam upaya
pemecahan persoalan. Melalui berbagai teknik bertanya guru harus dapat
menumbuhkan keberanian siswa agar mereka dapat menjelaskan, mengungkap fakta
sesuai dengan pengalamannya, memberikan argumentasi yang meyakinkan,
mengembangkan gagasan, dan lain sebagainya.
5. Tahap
Akomodasi
Tahap akomodasi adalah
tahapan pembentukan pengetahuan baru melalui proses penyimpulan. Pada tahap ini
siswa dituntut untuk dapat menemukan kata kunci sesuai dengan topik atau tema
pembelajaran. Pada tahap ini, melalui dialog guru membimbing agar siswa dapat menyimpulkan
apa yang mereka temukan dan mereka pahami sekitar topik yang dipermasalahkan.
Tahap akomodasi bisa juga dikatakan sebagai tahap pemantapan hasil belajar,
sebab pada tahap ini siswa diarahkan untuk mampu mengungkap kembali pembahasan
yang dianggap penting dalam proses pembelajaran.
6. Tahap
Transfer
Tahap transfer adalah
tahapan penyajian masalah baru yang sepadan dengan masalah yang disajikan.
Tahap transfer dimaksudkan sebagai tahapan agar siswa mampu mentransfer
kemampuan berpikir setiap siswa untuk memecahkan masalah-masalah baru. Pada
tahap ini guru dapat memberikan tugas-tugas yang sesuai dengan topik
pembahasan.
Sesuai dengan
tahapan-tahapan SPPKB seperti yang telah dijelaskan di atas, maka ada beberapa
hal yang harus diperhatikan agar SPPKB dapat berhasil dengan sempurna khususnya
bagi guru sebagai pengelola pembelajaran.
a. SPPKB
adalah model pembelajaran yang bersifat demokratis, oleh sebab itu guru harus
mampu menciptakan suasana yang terbuka dan saling menghargai, sebab setiap
siswa dapat mengembangkan kemampuannya dalam menyampaikan pengalaman dan
gagasan. Dalam SPPKB guru harus menempatkan siswa sebagai subjek belajar bukan
sebagai objek. Oleh sebab itu, inisiatif pembelajaran harus muncul dari siswa
sebagai subjek belajar.
b. SPPKB
dibangun dalam suasana tanya jawab, oleh sebab itu guru dituntut untuk dapat
mengembangkan kemampuan bertanya, misalnya kemampuan bertanya untuk melacak,
kemampuan bertanya untuk memancing, bertanya induktif-deduktif, dan
mengembangkan pertanyaan terbuka dan tertutup. Hindari peran guru sebagai
sumber belajar yang memberikan informasi tentang materi pelajaran.
c. SPPKB
juga merupakan model pembelajaran yang dikembangkan dalam suasana dilalogis,
karena itu guru harus mampu merangsang dan membangkitkan keberanian siswa untuk
menjawab pertanyaan, menjelaskan, membuktikan dengan memberikan data dan fakta
sosial serta keberanian untuk mengeluarkan ide gagasan serta menyusun
kesimpulan dan mencari hubungan antar-aspek yang dipermasalahkan.
BAB
III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
SPPKB
merupakan strategi pembelajaran yang menekankan kepada kemampuan berpikir siswa
melalui telaahan fakta-fakta atau pengalaman anak sebagai bahan untuk
memecahkan masalah yang diajukan. Model pembelajaran ini adalah model
pembelajaran hasil dari pengembangan yang telah diuji coba (Sanjaya, dalam Wina
2010:226)
Pengetahuan terbentuk
oleh dua faktor penting, yaitu objek yang menjadi bahan pengamatan dan
kemampuan subjek untuk menginterprestasi objek tersebut. Kedua faktor itu sama
pentingnya. Brower dan Hilgard (dalam Wina 2010:230) menjelaskan bahwa teori
kognitif berkenaan dengan bagaimana seseorang memperoleh pengetahuan dan
bagaimana mereka menggunakan pengetahuan tersebut untuk berperilaku lebih
efektif.
SPPKB bukan hanya
sekedar model pembelajaran yang diarahkan agar peserta didik dapat mengingat
dan memahami berbagai data, fakta, atau konsep, akan tetapi bagaimana data,
fakta dan konsep tersebut dapat dijadikan sebagai alat untuk melatih kemampuan
berpikir siswa dalam menghadapi dan memecahkan suatu persoalan (Wina, 2010:231)
SPPKB mempunyai 3
karakteristik, yaitu: Proses pembelajaran melalui SPPKB menekankan kepada proses
mental siswa secara maksimal, SPPKB dibangun dalam nuansa dialogis dan proses
tanya jawab secara terus-menerus, SPPKB adalah model pembelajaran yang
menyandarkan kepada dua sisi yang sama pentingnya, yaitu sisi proses dan hasil
belajar.
SPPKB
menekankan kepada keterlibatan siswa secara penuh dalam belajar, ada 6 tahap
dalam SPPKB yaitu tahap orientasi, tahap pelacakan, tahap konfrontasi, tahap
inkuiri, tahap akomodasi, tahap transfer.
3.2
Saran
Diharapkan peserta didik dan guru dapat
melaksanakan pembelajaran tersebut dengan baik, sehingga tujuan dari adanya
proses belajarpun tercapai. Tentunya dalam melaksanakan apapun kita mempunyai
tujuan, begitu juga dengan belajar. Dengan adanya strategi pembelajaran
tersebut, diharapkan guru mampu menerapkannya dalam proses pembelajaran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar